Pages

My Spirit

Aangedryf deur Blogger.

Huuuuaaakkkkkkkkkk

Lencana Facebook

Saterdag 21 Desember 2013

BAJU TOKKO

Baju Bodo sudah dikenal masyarakat Sulawesi Selatan pada pertengahan abad IX (pen), hal ini diperkuat dari sejarah kainMuslin, kain yang digunakan sebagai bahan dasar baju bodo itu sendiri. Kain Muslin adalah lembaran kain hasil tenunan dari pilinan kapas yang dijalin dengan benang katun. Memiliki rongga dan kerapatan benang yang renggang menjadikan kain Muslin sangat cocok untuk daerah tropis dan daerah beriklim kering. KENAPA DISEBUT WAJU TOKKO Pada awal munculnya, baju tokko tidaklah lebih dari baju tipis dan longgar sebagaimana karakter kain Muslin. Tampilannya masih transparan sehingga masih menampakkan payudara, pusar dan lekuk tubuh pemakainya. Sejatinya, dalam adat Bugis, setiap warna baju Tokko yang dipakai oleh perempuan Bugis menunjukkan usia serta martabat pemakainya. Kata “Waju Tokko”, menurut beberapa pau-pau rikadoan berasal dari kata “pokko”, hal ini menilik pada bentuk baju tersebut yang berbentuk baju kurung tanpa jahitan, bagian bawah terbuka, bagian atas berlubang seukuran kepala tanpa kerah. Bagian depan tidak memiliki kancing atau perekat lainnya, pada ujung atas sebelah kiri dan kanan dibuat lubang selebar satu jengkal. Lubang tersebut berfungsi sebagai lubang keluar masuknya lengan. Atas dasar inilah maka baju ini kemudian disebut sebagai baju pokko, baju yang tidak memiliki lengan. Pada perkembengan berikutnya kata pokko berubah menjadi tokko. WARNA DAN ATURAN PAKAI BAJU TOKKO. Baju tokko, diawal kemunculannya hanya menggunakan warna tertentu, melalui proses pewarnaan warna alam. Seperti Warna Kuning Gading dari Tanaman Kunyit (Bugis : Ongnyi, Latin : Curcuma domestica ) dan Temulawak ( Bugis : Temmu, Latin: Curcuma xanthorrhiza), Jingga dari Bua Gore’, Merah darah dari Akar Pohon Mengkudu (Bugis ; Lase’ Tedong Senngi, Latin : Morinda citrifolia) dan daun pohon Jati (Bugis ; Jati, Latin : Tectona grandis), warna biru dari tanaman Indigofera (Bugis :Oca-oca pakkampi, Latin : Genus Indigofera). Selain itu masih adalagi warna hitam, lebih tepatnya warna abu-abu, bukan warna hitam seperti yang ada saat ini. Warna ini diperoleh dari arang hasil pembakaran antara jerami padi (Bugis : Darame Ase, Latin : Oryza sativa), mayang kelapa (Bugis :Majang Kaluku, Latin : Cocos nucifera L) dan tempurung bakal buah lontar (Bugis : Bua Taa, Latin :Borassus flabellifer ). Agar tidak luntur, baju tokko yang telah diwarnai selanjutnya direndam dengan air Jeruk Nipis (Bugis : Lemo Kopasa, Latin : Citrus Aurantifolia Swingle). Sementara warna Ungu dari Tanaman daun kemummuu. Penerapan warna baju tokko tersebut dalam kehidupan sehari-hari memiliki aturan seperti ; a. Anak dibawah 10 tahun memakai Waju Tokko yang disebut Waju Pella-Pella, berwarna Kuning Gading. Disebut waju pella-pella (kupu-kupu), adalah sebagai pengambaran terhadap dunia anak kecil yang perlu keriangan. Warna kuning gading adalah analogi agar sang anak cepat matang dalam menghadapi tantangan hidup. Berasal dari kata maridi (kuning gading), yang jika ditulis dalam aksara lontara Bugis, bisa juga dibaca menjadi Mariddi, yang berarti matang. b. Umur 10 s/d 14 tahun memakai Waju Tokko, berwarna jingga atau merah muda. Pemilihan warna Jingga dan merah muda dipilih karena warna ini adalah warna yang dianggap paling mendekati pada warna merah darah atau merah tua, warna yang dipakai oleh mereka yang sudah menikah. Selain itu, warna merah muda yang dalam bahasa Bugis disebut Bakko, adalah representasi dari kata Bakkaa, yang berarti setengah matang. c. Umur 14 s/d 17 tahun, masih memakai Waju Tokko berwarna jingga atau merah muda, tapi dibuat berlapis bersusun dua, hal ini dikarenakan sang gadis sudah mulai tumbuh payudaranya. Juga dipakai oleh mereka yang sudah menikah tapi belum memiliki anak. d. Umur 17 s/d 25 tahun, Warna merah darah, berlapis dan bersusun. Dipakai oleh perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak, berasal dari filosofi, bahwa sang perempuan tadi dianggap sudah mengeluarkan darah dari rahimnya yang berwarna merah tua/merah darah. e. Umur 25 s/d 40 tahun, memakai Waju Tokko warna hitam.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking

 

Blogger news

Blogroll

About